Selasa, 03 Agustus 2010

Tranformasi Ke Alam Bawah Sadar

Oleh: Andrie Wongso

Dalam berbagai kesempatan saya sering mendengar bahwa kita hanya menggunakan 10 % dari seluruh kekuatan kita, 90% lainnya tertidur di alam bawah sadar.
Lalu pertanyaan muncul, bagaimana kita memanfaatkan 90% lagi kekuatan kita yang berada di alam bawah sadar? Kadang-kadang kekuatan itu muncul dipicu oleh daya yang super kuat dari luar, sering kali kekuatan itu menstimulasi organ-organ tubuh kita menjadi perkasa dan dalam banyak kasus pemicu itu berasal dari Dorongan PRIMITIF, yaitu "Insting untuk mempertahankan Hidup"

Seorang nenek tiba-tiba saja mampu mengangkat TV tinggi-tinggi dan menyelamatkannya dari kobaran api dalam bencana kebakaran atau seorang bocah yang tiba-tiba mampu melewati pagar setinggi 2 meter ketika dikejar oleh segerombolan anjing galak adalah bentuk contoh Pengaktifan kekuatan bawah sadar oleh insting primitif kita, insting untuk mempertahankan hidup.

Secara fisik, sering kali hal tersebut mampu memancing bangkitnya kekuatan dari alam bawah sadar kita, insting ini segera mengaktifkan tombol-tombol dalam system pertahanan diri ketika merasa terancam, yang segera mengumpulkan energinya dan menjadikan diri kita menjadi kuat.

Sebenarnya kita juga dapat mengaktifkan tombol-tombol itu secara sadar melalui tahapan pembelajaran, kita dapat memindahkan informasi-informasi yang ada ke alam bawah sadar, dan dijalankan di sana sehingga energi Alam SADAR kita masih bisa kita manfaatakan untuk hal lain.
Transformasi Data Base ke dalam alam bawah sadar

Pada proses ini kita mengenal 4 tahapan :

Tahapan pertama kita sebut sebagai tahap Belenggu Kebodohan, yaitu tahapan KETIDAKSADARAN atas ketidaktahuan. Sering kali pada tahapan ini kita merasa serba tahu, kita merasa hebat, kita tak menyadari ketidaktahuan kita, kita tak menyadari kebodohan kita, sering kali pada tahapan ini kita tidak mau bersinggungan dengan apa yang kita sebut BELAJAR, kita enggan mencari tahu hal-hal di luar dari pengetahuan kita, sampai akhirnya kita menemukan tahapan kedua.

Seperti pada saat kita pertama kali mengenal mobil, kita merasa telah mampu mengendarainya, ketika kita telah mencoba dan ternyata tidak mampu, kita akhirnya memasuki tahap kedua.

Tahapan ini merupakan tahap Awal Pembelajaran yaitu tahapan SADAR atas ketidaktahuan. Pada saat ini kita sudah mengetahui bahwa banyak hal yang kita tidak tahu, dan kita mulai mencari informasi dan mau mencoba terjun dalam proses BELAJAR.

Seperti pada saat kita tahu kita mesti belajar mengendarai mobil, kita segera mencari guru untuk mengajari kita, kita segera melakukan serangkaian latihan sampai kita mampu menjalankannya dan memasuki tahap ketiga.

Tahapan berikutnya adalah tahap Pengisian Kecerdasan yaitu tahapan SADAR memiliki pengetahuan. Pada saat ini kita telah menyadari bahwa kita telah mengetahui pembelajaran tersebut, kita mampu memanfaatkan secara sadar pengetahuan kita dalam setiap langkah yang kita ambil.

Seperti pada saat kita telah mampu mengendarai mobil untuk pertama kali, perhatian kita segera tersita untuk mengkoordinasi gerakan untuk mengeram, untuk menginjak pedal gas, untuk memindahkan gigi, melihat kaca spion, dan semua ini lakukan dengan kesadaran untuk memastikan mobil tersebut berjalan benar. Lalu pada saat itu semua terasa kaku, kita harus berpeluh ketika memindahkan gerakan menginjak pedal gas, ke pedal pengereman. Ketegangan hampir menyelimuti kita dimulai pada saat mobil itu bergerak sampai mobil itu dihentikan, sampai kita memasuki tahapan terakhir dari pembelajaran.

Tahapan terakhir dari proses ini adalah tahap Transformasi alam bawah sadar, yaitu SADAR atas ketidaksadaran memiliki pengetahuan kita. Kita tidak lagi menghabiskan banyak energy dan perhatian dalam mengolah data-data yang terekam, secara otomatis semua berjalan dengan begitu saja, alam bawah sadar kita telah mengambil peranan dalam proses ini. Data-data segera ditransformasi setelah mengalami PEMATANGAN melalui serangkai aktivitas yang dilakukan berulang-ulang, rutinitas ini membentuk suatu Kebiasaan yang dicatat dalam alam bawah sadar, yang selanjutnya dipergunakan mengikuti kode pencatatan, mengikuti program yang telah tersusun, tanpa harus menguras terlalu banyak energy dari kesadaran kita.

Seperti pada saat kita telah mahir mengendarai mobil, kita tidak lagi memperhatikan gerakan menginjak pedal gas dan rem, kita tidak lagi memperhatikan gerakan menyalakan lampu tangan, semua dilakukan secara alami, kita sadar kapan harus melakukan gerakan pemindahan gigi, tapi kita perlu lagi memperhatikan gerakan itu seperti pada saat kita belajar pertama kali, semuanya telah diambil alih oleh Alam bawah sadar kita. (Dan kita tetap hidup berKESADARAN)

Bayangkan, betapa banyak energi yang dapat kita hemat, jika kita mampu memindahkan sedikit demi sedikit date base kita ke alam bawah sadar kita, seperti halnya saat kita mengetik, ketika tahapan itu telah tercapai, tangan kita secara otomatis menekan tombol huruf yang ada, menerjemahkannya dalam kata-kata tertulis.

Tapi ada kalanya, data-data tersebut dapat dirusak oleh virus ketakutan, ketika kita terancam secara mental, virus ini akan menyebar dalam tubuh kita, acap kali hal ini bukan hanya membuat kita tak mampu memunculkan kekuatan dalam alam bawah sadar, tapi juga sering mengagalkan penggunaan akal sehat kita, dan membuat kita tidak sadar. Sebagai contoh, lihatlah seorang ibu yang terperangkap dalam lautan api, ia mengalami kesulitan ketika hendak membuka pintu rumah yang sudah ia lakukan ratusan bahkan ribuan kali, tangannya gementaran, dan ia bahkan tak mampu mengontrol organ-organ tubuhnya. Atau saat kita kehilangan suara ketika melihat api sedang menjalar dengan ganasnya di depan batang hidung kita.

Sebelum saat itu menghampiri kita, maka pembelajaran harus kita lanjutkan ke tahap berikutnya, yaitu menuju kesadaran tertinggi yaitu PENCERAHAN.

Pada fase ini kita akan tampil lebih elegan, tahapan ini membuat kita mampu menghadapi masalah lebih tenang, kita dapat menggunakan kekuatan alam bawah sadar dan tidak kehilangan kendali atas alam sadarnya. Dan tahapan ini akan tercapai saat kita telah mampu menjalankan moralitas, konsentrasi dan kebijaksanaan (Sila, Samadhi dan Panna) secara berkesinambungan dalam kehidupan ini.

Saat itu, kita telah menjadi Pengemudi yang mahir, yang mampu memberdayakan kekuatan alam bawah sadar kita, yang mampu mengemudikan diri kita dalam jalan raya kehidupan ini, menuju ke dalam Kesadaran tertinggi yaitu PENCERAHAN, menuju sukses dunia dan Akhirat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar